tugas-resensi-universitas-narotama-surabaya

Judul Resensi     : Ketika Aku Menjadi Nabi Kejahatan
Judul Buku          : Tuhan Izikan Aku Jadi Pelacur
Penulis                    : Muhidin M Dahlan
Penerbit                 : Scripta Manent
Cetakan                  : KE 15, Bulan Januari – 2011
Tebal                        :   261 Halaman
Predikat                 : Best Seller ( Gramedia )
Harga                       : Rp. 36.000,-

Dalam era yang serba maju saat ini membuat beberapa diantara kita akan mendapati berbagai masalah yang harus dihadapi yang terkadang begitu rumit bagi kita dan sebagian orang dalam menghadapinya, terkadang kita dapat salah mengartikan dan salah dalam menentukan jalan penyelesaian serta salah dalam penafsiran masalah tersebut, terkadang juga kita menyalahkan orang – orang yang memiliki hubungan langsung dengan permasalahan itu tanpa tahu dan paham akan penempatan masalah itu.
Hal tersebutlah yang menjadi latar utama dalam pembahasan di dalam novel yang berjudulkan “ Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur” ini ditulis oleh Dahlan, alur cerita yang terasa nyata membuat kita serasa berada di dalam kisah ini bersama Nidah Kirani sang pemeran utama dalam novel ini. Kelihaian dan kemampuan dalam menata kata – kata oleh muhidin dan dahlan membuat berbagai situasi yang unik dan nyentrik seperti salah satu kutipan kata – kata yang menurut saya sangat nyentrik “Ke mana pun Engkau berlari, aku akan terus mengejar pertanggungjawaban-Mu. Ini janjiku kepada-Mu, Tuhan. Karena Kau telah menciptakanku, maka Kau harus menyingkap misteri-misteri-Mu kepadaku. Aku takkan pernah mengabdi kepada-Mu seperti yang dilakukan pendusta-pendusta dan orang-orang pandir itu. Sampai Kau pun memberiku gelar sang nabi kejahatan karena aku akan menyebar kerusakan-kerusakan di seluruh bumi ini atau Kau sibak semua dari hakikat ini: penciptaan, kehidupan, eksistensiku, dan juga Kau sendiri. Aku bersumpah, tak akan mau menerima apa pun yang tak jelas dari-Mu.
Nidah Kirani seorang mahasiswi alim, cerdas dan taat tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar, kecintaannya pada agama membuat dia memilih untuk hidup yang sufistik, dan keinginannya hanya satu yaitu menjadi muslimah yang beragama secara kiffah dan mendalami pengetahuannya mengenai islam membuatnya mencari orang – orang maupun komunitas yang dapat di buatnya menjadi panutan dalam mendalami dan menerapkan semua yang ingin dia ketahui mengenai islam.
Semangatnya dalam beragama seperti gayung bersambut ketika ia menerima doktrin-doktrin bahwa Islam yang ada di Indonesia sekarang ini tidak murni, Yang murni hanya ada dalam Quran dan Sunnah Rasul. Dengan tafsiran, Islam itu bukan agama. Islam itu Dien atau sistem yang hukum-hukumnya ditata dalam syariat. Kalau belum ada pemerintahan untuk mengegakkan syariat itu, maka bukan dikatakan Islam. Singkatnya ia ikut tergabung dalam organisasi itu, Organisasi dimana jemaahnya ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Setelah sekian lama tergabung dalam organisasi itu, ia merasa tidak ada kemajuan dalam organisasi nya. Sistem yang tidak transparan yang didalamnya terdapat kepalsuan dan kebohongan. Nidah Kirani merasa sangat kecewa. Belum lagi banyak masalah yang timbul akibat keaktifannya dalam organisasi itu. Bukannya segera bertobat dan kembali ke jalan Allah. Ia malah justru merasa kecewa dengan Allah karena ia merasa semua yang telah dia lakukan adalah sia – sia padahal semua dia lakukan dengan tujuan untuk menegakkan agama. Akan tetapi ditengan kekecewaannya ia merasa tidak adanya intervensi dari Allah padahal ia telah sebegitu berjuangnya selama ini.
Di saat kondisi nya yang galau, ia justru melampiaskan kekecewaannya dengan melakukan free sex. Disini penulis menjelaskan bahwa semua yang tergoda oleh Nidah Kirana untuk melakukan freesex adalah pria-pria yang merupakan aktivis Islam. Mereka adalah orang-orang munafik pikir Nidah. Akhirnya ia pun menjual diri nya pada para pria. Pelacur, pilihan yang dia pikir lebih menguntungkan ketimbang hanya sekedar freesex dengan teman-teman kampusnya.
Sesuai dengan kutipan berikut “Aku sang nabi kejahatan, akan menemui kehidupan bumi yang makin lama makin gelap. Nantikan aku manusia-manusia! Aku, sang nabi kejahatan, sang putri api, akan terus mengganggu, menyobek-nyobek, dan membakar topeng-topeng kemunafikan hidupmu. Tunggu saja. Aku segera datang. Segera datang.” Membuat ia terus yakin untuk terus berbuat maksiat tersebut dengan alasan agar dapat membayar kekesalannya terhadap Tuhan yang menurutnya tidak bisa memberi yang terbaik padanya sebagai ganti dari usaha dn kerja kerasnya untuk menegakkan agamanya.
Novel “Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur” ini banyak menyimpan kejadian dan pelajaran yang dapat kita jadikan sebagai pedoman kita nantinya agar tidak salah dalam melangkah untuk menjadi lebih baik dan hidup sebagaimana mestinya, karena hidup dijaman yang modern saat ini membuat kita harus mampu membaur dan bergaul dengan berbagai macam perbedaan dan latar belakang teman kita, Agar mampu untuk terus menjalankan hidup kita.
Akan tetapi novel ini memiliki kekurangan yang sanggat tidak baik menurut saya, penulis tidak memberikan ENDING yang baik pada akhirnya, kurangnya penyelesaian masalahnya membuat kita malas untuk membacanya lagi, harusnya pada akhir penulis memberikan akhiran yang baik mungkin seperti Nidah Kirana taubat pada akhirnya karena dihadapkan pada situasi yang membuatnya harus mengubah pola pikirnya terhadap maslah yang dia hadapi saat itu, agar tidak ada kesan bahwa ia hanya memberontak saja terhadap kesalahaan penafsirannya pada novel ini.
Saya setujuh jika dikatakan cerita dalam novel ini bisa menjadi panutan kita dalam menghadapi permasalahan khususnya pada kaum wanita, karena dari segi cerita yang mengandung banyak kejadian dan permasalahan yang mungkin akan terjadi dalam kehidupan kita kelak. Tapi saya juga tidak dapat memungkiri jika suatu saat ada yang mengatakan bahwa ending pada novel ini buruk, karena pada kenyataannya dinovel ini tidak dicantumkan secara jelas ending yang harusnya membuat perubahan pada sang pemeran utama guna menyesuaikan fungsi buku ini sebagai bahan untuk panutan bagi setiap orang yang membacanya terutama kaum hawa.